Wednesday, October 16, 2013

My First Touring


Minggu tanggal 13 Oktober 2013 atau lebih tepatnya H-2 Hari Raya Idul Adha, gue di hari itu ada kegiaran touring bersama komunitas gue. Walaupun beranggotakan masih bisa hitungan jari tapi selama gue di komutas ini gue merasa nyaman dan bisa curhat kepada anggota-anggotanya (ini komunitas touring apa komunitas galau) ok bagian tadi lupakan. Di hari Minggu yang cerah ini gue bangun jam 04:00 untuk mandi, karena gue udah prediksi pasti setalah Sholat Subuh gue pasti akan tidur lelap lagi, makanya gue mandi lebih awal, dan prediksi gue itu ternyata benar, gue bangun saat temen gue Uno dateng kerumah gue, “Riky... Riky... Assalamualaikum” untung dia nggak nyaut seperti ini “Riky Riky... main yuukkk “ gue langsung bangun dan menghamnpiri dia “ada apa Muk dateng pagi pagi kerumah gue” gue bertanya dengan nada setengah nyawa “lu lupa, sekarang kan ada kegiatan touring, ah bise aje” jawab dia sambil ketawa “oiya bener, gue siap-siap dulu ya Muk “sambil lari ke kamar, dan gue bisa cepet rapi-rapi dikarenakan gue sudah mandi pagi, jadi gue nggak usah mandi lagi.

            Gue mempersiapkan semua untuk siap pergi touring hari ini, dan sebelum pergi tak lupa gue minta doa restu sama nyokap gue tercinta “ma aku pergi dulu ya” sambil salim “pergi kemana?” masih dalam keadaan salim “mau ke puncak, sambil touring gitu” nyokap gue melihat dandanan gue udah kayak mau sulap ingin bakar diri, dikarenakan costume yang gue pakai itu sangatlah tebal dan safety. Dan gue memakai dasi Pramuka untuk menjadi slayer, nyokap gue ketawa sambil bilang “kamu mau turing apa mau Pramukaan” Ok sesi disini diselesaikan dulu dengan gue lari kedepan untuk menghampiri temen gue yang udah dikerubutin nyamuk karna gue kelamaan di dalam “de ini bawa bubur buat sarapan” saut nyokap sambil bawa bubur,“ok maaaa, Assalamualaikum” “Waalaikumsalam “ jawab nyokap di dalam rumah.

            Gue dan Uno langsung ke tempat Kopdar (kopi darat/beskem). Karena semuanya sudah pada menunggu disana dengan nyamuk  menyerang badan mereka. Dan lagi lagi karena gue yang dateng telat, sesampai disana gue langsung sarapan. Karena kalo tidak sarapan gue akan menggila saat di perjalan nanti sambil berteriak “Aku Lapar, Aku Ingin Minum” ..... “heninggggg....”

            Dan tak lama kemudian gue menghabiskan sarapan gue dan sebelum kita touring kita berdoa bersama untuk keselamatan dan memakai pakaian yang sangat rapat dan safety seperti layaknya pesulap yang ingin bakar diri. Kita langsung berangkat dengan posisi yang semalam sudah direncanakan. Di perjalanan kami saling memberikan tanda-tanda seperti berhenti, ada rintangan, belok kanan, belok kiri, dsb. Sesampai kita di Bogor kita banyak bertemu dengan komunitas touring lainnya, sehingga kami sering menyalakan klakson untuk saling menyapa, dan masih di Bogor juga kita berhenti di pom bensin, karena sudah hampir keabisan bensin, dan juga temen gue Anjas atau biasa dipanggil Kuple ini kebelet mau pipis.


            Setalah menunggu teman teman yang mengisi bensin, dan menunggusi Kuple keluar dari kamar mandi, akhirnya kita melanjutkan perjalanan yang masih ¾ jalan lagi, karena tujuan touring kami hari ini yaitu ke Puncak. Kami pun jalan dengan posisi seperti tadi, sesampinya kita di perbatasan Bogor, banyak polisi yang sudah menjegat di depan lampu merah atau bisa dibilang sedang ada razia, temen gue si Hazel atau si pembuat kata yang populer di komunitas kita dengan sebutan “Ah Bise Aje” ini memberikan tanda agar berhenti di belakang garis stop (garis yang putih-putih itu tuh kalo ada di lampu merah) gue pun langsung mengerem motor dengan kuatnya, dan pas banget gue tidak mengenai garis stop itu. Namun di sebelah gue bernasib malang, karna dia saking cepetnya sehingga dia tidak bisa mengerem, lalu berhenti di depan garis stop dan langsung di panggil polisi.
Sungguh hebatnya pemimpin jalan kita si Hazel ini, bagaimana jika dia tidak memberikan tanda, mungkin anggota-anggota semua sudah pada digeret ke polisi, dan bertahan hidup disana selama polisi mau, Thank You Hazel :* 

            Kita berhenti di sebelah mini market, karena jalannya yang macet dan kita pun juga mulai lelah (mulai lelah mulai lelah #SambilJoget) disana kita foto foto dulu untuk dokumentasi, saat foto foto di sebelah mini market kita diliatin oleh orang-orang. Mungkin menurut orang sekitar, kita itu bagaikan orang-orang yang bermodal motor dan pakaian tebel plus safety ini bercita cita jadi model majalah motor. #lupakan

            Waktu istirahat selesai, dan kita melanjutkan perjalan kita, walaupun di Puncak ramai lancar, tetapi kita masih tetep kuat untuk terus melaju sampai atas. Walaupun dengan masalah motor Uno ini hampir tidak kuat untuk menanjak, dengan strategi gue, gue memainkan gas agar kuat melaju di jalan yang menanjak ini. Dan di kemacetan ini gue dan yang lain menyalip-nyalip ke sebelah kanan mobil, kecuali si Nanda yang memakai set box (box/kotak yang ada di kanan-kiri motor) dia harus memperikirakan jarak antara mobil dari kanan dan mobil dari kiri, karna motor dia lebarnya udah kaya mobil penganten, jadi dia agak susah untuk menyalip di keadaan macet karena takut nyangkut ke mobil orang. Dan hebatnya si Nanda bisa mengendalikan itu semua, dan dari kita semua tidak ada yang ketinggalan hingga tujuan kita, yaitu Kebun Teh di Gunung Mas. Sesampi di tujuan, ternyata tanpa dugaan kita, cuaca disana sedang hujan, kita langsung cari tempat berteduh agar bisa meneduh (that’s good idea). Setelah mencari cari tempat teduh, akhirnya kita meneduh di warung kopi dan kita langsung lari ke warung kopi tersebut untuk berteduh. Di warung kopi tersebut kita makan mie, minum kopi dan ngemil, terkecuali Hazel yang membawa bekel sendiri dari rumahnya. Saat bekelnya sudah habis dimakan, dia ternyata mesen mie lagi, betapa hebatnya orang seperti Hazel ini.

            Kita menunggu hujan yang turun secara keroyokan ini dengan obrolan-obrolan yang di sela-sela obrolan itu dengan candaan khas masing masing, seperti Hazel yang memakai candaan yang khas buatannya, yaitu “Ah Bise Aje” atau Uno yang suka foto-foto saat kita lagi nggak action, atau Nanda dengan bahasanya yang dewasa,  atau Aldian dengan mengejek si Kuple terus terusan, atau Ucup (anak dance berjamur yang ikut touring) dengan sering foto-foto alay dengan efek bibir kunyit via I-Pad, atau gue yang dari tadi pagi yang kebelet pipis, kami beda namun tetap bersama, seperti Bhineka Tunggal Ika.

            Hujan yang telah mengguyur kota Bogor selama kurang lebih 2 ½ jam ini membuat kita kelamaan bercanda di warkop, dan abang-abangnya lelah menunggu dan berfikir “ini orang kapan bayarnya?” setelah hujannya selesai dan sekarang tinggal gerimis, kita sepakat untuk ke bawah dan foto-foto di kebun teh. Perjalan kita tersendat karena jalananya untuk motor cross, dan kami jalan pelan-pelan agar ban kita tidak meledak saat jalan di tempat yang ekstrem itu. Sesampai di sana kita foto-foto bersama kuda besinya (Motor) masing masing, terkecuali gue dan Ucup yang tidak membawa motor. Walaupun gue nggak bawa kuda besi sendiri, seengaknya gue selalu membawa banner K-ON (band dari Jepang), karena kecintaan gue dengan K-ON  itu bagaikan gue mecintai hobi gue. Ok lanjut ke cerita kita foto-foto selama 20 menit. Dan diliatain sama orang sekitar dan orang Arab, kita mah enjoy aja.

            Karena waktu sudah sore kita ada rencana untuk pulang, karna takut pulangnya kemaleman (lagi). Saat sudah di pintu masuk tanpa diduga jalan menuju pulang itu di tutup dan macet total, dan si Hazel menyimpulkan bahwa kita naik lagi untuk ke warkop di deket Rindu Alam. Saat sampai disana kita langsung masuk ke warkop yang sepi dan paling berisik dengan lagu DJ, gue membeli cilok di depan warung, Uno membeli susu soda, Hazel beli kopi susu, dan yang hebat si Aldian, dengan hawa yang dingin dia malah memesan es teh. #GoodMan

            Gue nggak tau susu soda tuh kayak gimana rasanya, dan gue mengira susu soda itu ber-akohol, “eh gan mau nyobain kagak nih susu soda, enak banget deh, ah bise aje lu”kata Hazel yang mengasih gelas yang berisikan susu soda “ini ber-akohol nggak Zel” gue nanya sambil memasang tampang anak SD “yeee udeh slow aje, kayak  ginian mah kagak ada alkoholnye, ah bise aje lu gan” jawab Hazel sambil senyum dikit. Gue sama Hazel itu udah kayak anak Kaskus gitu, pengganti dari kata “lu” sama “gue” di ganti dengan “gan” dan “ane” layaknya anak Kaskuser, dan hebatnya kita berdua nggak punya akun Kaskus. #lupakan

            Setelah gue meyakinkan bahwa susu soda itu tidak ber-alkohol, si Uno temen gue menaruhkan soda yang berwarna bening itu ke dalam gelas yang sudah berisi susu putih (gue nggak tau susu sapi apa susu onta) itu, dan dia mengaduk bagaikan tukang jamu yang sering lewat di depan rumah gue “eh Rik lu mau nyobain nggak nih, enak loh” sambil memberikan gelas sambil senyum senyum bagaikan gue nanti akan dicium paksa, dengan kuatnya jiwa gue dan semangat rohani gue, gue memberanikan untuk meminum susu soda itu “glekkk gleeekkk glllleeekk” gue minum “buset dah rasanya enak banget ternyata dari apa yang gue bayangkan sebelum gue meminumnya, jadi ini sebuah rasa yang selama ini gue masih meragukan” dan akhirnya gue menenggak 2 kali.

            Dan karna jalanan belum juga di buka, kita pun fix untuk menunggu sambil foto-foto (lagi), namun kali ini beda, yaitu foto di atas warkop yang suasana di bawahnya itu keren banget kayak matras hijau mengelilingi kita, padahal yang hijau-hijau itu adalah kebun teh. Kita foto-foto dengan wajah riang terkecuali Anjas yang foto dengan gaya galau, atau dengan posisi duduk di pinggiran sambil melihat bukit dengan kacamatanya yang kegedean itu dia foto dengan galaunya. Kalau menurut gue, si Anjas ini sedang memikirkan sesampai dirumah dia harus nyuci baju dan push up agar badannya tebentuk.

            15 menit berlalu dengan begitu cepatnya, sehingga jalan pun sudah dibuka. Jadi kita siap-siap untuk jalan pulang. Setelah kita mau berangkat, ada kendala yang menimpa Hazel “aduuuuhhh aki gue soak” sambil melihat lampu utamanya yang mati dengan tenang, yang gue bingung, kenapa akinya bisa soak, padahal motornya tadi sehat sehat aja, setelah mau dipake akinya soak sendiri, kenapa itu bisa terjadi? #lupakan

            Si Nanda ber-anggapan “udah Zel kita nyari pom bensin, dan ini kan masih sore jadi nggak apa apa nggak pake lampu utama”, “ok deh, ah bise aje” jawab Hazel sambil memamerkan jempolnya yang kotor abis megang lumut. Si Ucup dan Aldian membuka jalan untuk kita dari warkop tadi hingga menuju pom bensin terdekat. Karena bensin gue sama Hazel sudah sekarat, kita pun beli bensin dulu untuk bisa melanjutkan perjalanan pulang. Sambil menunggu Hazel dan Uno yang beli bensin, gue dan yang lain menunggu di depan, nggak lama kemudia ada 2 cewek melintas di depan Ucup, dia langsung bilang “bisa kali gue gonceng di tengah” ini adalah kelakuan yang tersimpan dalam diri Ucup, yaitu jago masalah menaklukan hati para cewek, dari mulai yang kecil, yang muda, hingga janda dan manula, sungguh hebat teman saya yang satu ini. #GoodMan

            Menunggu selama 5 menit dan ternyata gue, Anjas, dan Nanda kebelet pipis, akhirnya kita nambah waktu istirahat lagi dengan menunggu kita ber-3 pipis bareng di kamar mandi pom bensin.  Nggak lama kemudian kita langsung menghampiri teman-teman kita yang sudah di lalerin di depan pom bensin #lupakan. Kita langsung melanjutkan perjalanan pulang dengan Ucup dan Aldian membuka jalan (lagi) untuk kita.

            Waktu sudah menunjukan sholat Magrib. Dan kita mencari pom bensin (lagi) untuk berhenti sejenak, perut gue agak kembung karna minum susu soda tadi “woy gaaann ane pup dulu gaaan” saut gue ke Hazel yang sedang ngaca di depan kamar mandi “iyeeee gan slow aje” jawab dia sambil senyum. Setelah gue ke kamar mandi, membuka pintu kamar mandi, ternyata jamban yang dipake oleh pom bensin ini adalah jamban duduk #hening #lupakan.

            Tidak melanjutkan cerita tentang jamban lagi, akhirnya kita melanjutkan perjalannya dengan keadaan gelap atau malam. Di perjalanan kita semua pada merasakan keroncongan, apakah kita mulai lapar (mulai lapar mulai lapar #SambilJoget). Dan seperti biasa kita berhenti di pom bensin (terakhir) untuk istirahat (terakhir), dan makan (terakhir). Si Nanda nyebrang jalan untuk memesan martabak keju, dan gue pun ke kamar mandi untuk melakukan yang mungkin kalian tau. Setelah gue balik dari kamar mandi dan jalan menuju teman-teman gue yang sudah menunggu di depan, ternyata mereka sudah start dulu untuk masalah makan, dan gue kesisaan 2 martabak (lu mayan deh daripada lu manjat) setelah makan selesai, kita ingin lanjutkan perjalanan, namun ada masalah di Anjas ini, ternyata kunci kuda besi nya menghilang, teman-teman yang lain pada ketawain, gue yakin ini akal bulus mereka semua, persentase untuk mencari kunci di pinggir jalan dengan keadaan gelap itu hanya 18,5%, dan sisa persentasenya diumpetin.

            Si Anjas mencari kesana-kemari untuk mencari kunci, dan dia menggunakan alat bantu senter HP, dan hasilnya 0 “aduh mana nih kunci gue ilang, gue udah cari di motor, di jalan, hingga di got-got” dia mengeluh sambil megang kepalanya yang berambut kerimis ke kanan seperti mas-mas yang magang di mini market selama 2 hari “udah cari aja lagi Njas” saut Nanda, pas dia cari-cari kebelakang sana, dan dia ngecek di motor lagi, ternyata ada. Inilah kelakuan yang nggak bagus, disini kita diajarkan untuk menjaga barang-barang kita, jangan sampai di ambil orang. #salamsuper

            Dan setelah ketemu kuncinya si Anjas, kita pun melanjutkan sampai tempat kopdar, dan sesampainya disana kita tutup dengan Doa. #Alhamdulillah

            Namun masih ada satu pertanyaan yang masih ada dipikiran gue, kenapa gue nggak beli slayer batik disana? (kalian bingung, apalagi gue yang baru keingetan saat nulis tulisan ini)


0 comments:

 
;